Oleh Arip Musthopa
Ketua
Bid. Pembinaan Anggota PB HMI 2006-2008.
Sejarah HMI bukanlah sejarah HMI
semata. Sejarah HMI adalah sejarah pergumulan umat dan bangsa di bumi
nusantara. Tepatnya, sejarah pergumulan kaum intelegensia muda Islam-Indonesia
dalam interaksinya dengan umat dan bangsa di bumi nusantara. Dengan pemaknaan
demikian, maka makna kehadiran HMI tidak bisa dilihat hanya sejak tahun 1940-an
ketika Lafran Pane dkk, menjadi mahasiswa dan berinisiatif mendirikan HMI
hingga saat ini, melainkan harus ditarik jauh hingga ke masa pemberlakuan
politik etis Pemerintah Kolonial Hindia Belanda pada akhir abad ke-19 masehi;
dan bahkan ditarik hingga abad ke-13 masehi ketika pertama kali Islam masuk di
bumi nusantara. Penarikan sejarah yang jauh ke belakang ini untuk menggapai
makna yang lebih utuh karena makna kelahiran dan keberadaan HMI merupakan
bagian integral dari semangat Islam masuk ke bumi nusantara dan semangat
perjuangan kaum intelegensia muslim sebagai ‘blok historis’ yang menginisiasi
kelahiran Negara Republik Indonesia pada awal abad ke-20.
HMI merupakan produk sejarah yang
tak terhindarkan dari dua peristiwa penting sejarah (umat) Islam di bumi
nusantara, yakni sejarah permulaan Islam masuk di bumi nusantara dan sejarah
kebangkitan muslim nusantara (yang dipimpin kaum intelegensia) untuk
membebaskan bumi nusantara dari penjajah kolonial Belanda. Pemaknaan yang
seperti ini bukanlah sesuatu yang mengada-ada karena semangat Islam masuk ke
bumi nusantara yakni syiar Islam, dan semangat kaum intelegensia muslim awal
abad ke-20 untuk memerdekakan Indonesia tercermin dalam dua tujuan awal
berdirinya HMI pada 5 Februari 1947 bertepatan dengan 14 Rabiul Awal 1366 H,
yaitu (1) mempertahankan Negara Republik Indonesia dan mempertinggi derajat
rakyat Indonesia, dan (2) menegakkan dan mengembangkan ajaran agama Islam.[1]
